Calo Jabatan Kepala Sekolah di Makassar Meradang Calonnya Tak Lolos, Calon Kepsek Akui Pernah Diminta Uang Operasional
MAKASSAR – Dugaan praktik jual beli jabatan di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Makassar kembali menjadi perbincangan. Seorang calon kepala sekolah berinisial S mengaku pernah dijanjikan dapat menduduki jabatan kepala sekolah melalui seseorang berinisial AgK yang disebut memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.
Kepada tim redaksi, S menuturkan bahwa sekitar Agustus 2025 dirinya bersama sejumlah calon kepala sekolah lainnya pernah dikumpulkan di sebuah lokasi di wilayah Kelurahan Panaikang. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh sosok berinisial AgK.
Dalam pertemuan itu, kata S, AgK mengklaim memiliki akses dan kedekatan dengan pihak-pihak tertentu sehingga diyakini mampu membantu meloloskan calon kepala sekolah dalam proses pengangkatan.
“Dia menyampaikan bahwa memiliki kedekatan dengan wali kota sehingga bisa membantu meloloskan calon kepala sekolah,” ungkap S.
Pengakuan tersebut membuat S menaruh harapan besar. Selama kurang lebih sembilan bulan, ia menunggu kabar mengenai proses pengangkatan kepala sekolah. Namun hingga pelantikan dilakukan, namanya tidak termasuk dalam daftar pejabat yang dilantik.
S mengaku sempat menyiapkan uang sebesar Rp15 juta sebagai bentuk ucapan terima kasih apabila dirinya benar-benar dilantik menjadi kepala sekolah.
“Saya sudah siap memberikan ucapan terima kasih sebesar Rp15 juta jika memang dilantik,” ujarnya.
Ia juga mengaku telah menyerahkan uang sebesar Rp2 juta kepada AgK yang disebut sebagai biaya operasional.
“Itu untuk biaya operasional. Dia minta diberikan Rp2 juta dulu, nanti setelah pelantikan baru diberikan sisanya,” kata S.
Merasa kecewa dengan pengalaman tersebut, S mengimbau agar para calon kepala sekolah tidak mudah percaya terhadap pihak-pihak yang mengaku dapat menjamin jabatan tertentu.
“Jangan percaya calo jabatan. Kalau berhasil, mereka akan menagih. Kalau tidak berhasil, biasanya mencari alasan dan seolah-olah ikut prihatin,” tuturnya.
Sementara itu, di tempat terpisah, tim redaksi juga menemui seorang kepala sekolah yang baru saja dilantik, berinisial Bch. Ia membantah keras adanya praktik pembayaran untuk memperoleh jabatan kepala sekolah.
“Demi Allah, demi Rasul, tidak ada sepeser pun saya bayar untuk menjadi kepala sekolah,” tegasnya.
Bch mengatakan pengangkatannya merupakan bentuk kepercayaan yang diberikan pemerintah daerah atas rekam jejak dan kinerjanya selama ini.
“Alhamdulillah, saya dipercaya memimpin SD Maccini Sombala. Amanah yang diberikan adalah menjaga integritas dan bekerja dengan baik,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, dugaan praktik jual beli jabatan kepala sekolah di Kota Makassar masih sebatas pengakuan narasumber dan belum dapat diverifikasi secara menyeluruh. Belum ditemukan bukti transaksi maupun putusan hukum yang menguatkan adanya praktik jual beli jabatan dalam proses pengangkatan kepala sekolah yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Tim redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kota Makassar dan pihak yang disebut dalam pengakuan narasumber, guna memenuhi prinsip keberimbangan informasi.
.







